Logika Diatas Logistik Menggali Keberanian Yang Menghujam

Rukmana MWN

Reporter : Jecko Poetnaroeboen

Editor : Wiratno

 

MEDIA WARTA NASIONAL | TUAL ‘ Dewasa ini, kita sering keliru mengartikan keberanian sebagai gegap gempita otot atau kaldron
kemarahan yang meluap di medan tempur. Padahal, jika kita menelisik lebih dalam, keberanian sejati adalah sebuah operasi batin yang sunyi. Sebuah cara berpikir.

Kedigdayaan sebuah bangsa bukanlah produk instan saat badai menerjang, melainkan monumen yang telah ditempa jauh sebelumnya di dalam bengkel jiwa yang hening. Di sanalah filsafat bekerja. Ia memang tidak menghunuskan pedang atau meluncurkan rudal.

Namun, filsafat memberikan alasan bagi sepasang kaki untuk tetap berdiri tegak ketika badai mencoba mematahkan lutut. Ia adalah akar yang menghujam ke rahim bumi, yang memastikan bahwa pohon identitas tidak akan tumbang meski dahan-dahannya diguncang oleh agresi dan isolasi.

Dalam catatan sejarah, masyarakat yang memiliki tradisi berpikir yang dalam cenderung memiliki satu karakteristik yang kontras: mereka tidak mudah terjangkit wabah panik. Mereka bisa saja melakukan kesalahan, mereka mungkin saja menderita kekalahan, tetapi mereka jarang sekali kehilangan arah.

Mengapa? Karena koordinat perjalanan mereka tidak ditentukan oleh peristiwa – peristiwa luar yang fluktuatif, melainkan oleh navigasi pemahaman batin yang kokoh.

Di jagat modern yang serba cepat dan instan, filsafat sering dianggap sebagai barang antik yang using mewah, tidak praktis, bahkan dianggap sebagai beban yang menghambat pengambilan keputusan.

Namun, ditengah narasi pragmatisme global, muncul sebuah anomali yang memaksa kita untuk merenung kembali: Iran. Negara ini, dengan segala labirin politiknya, tetap memelihara sebuah nyala api
intelektual yang jarang disadari oleh dunia luar.

Disana filsafat tidak pernah benar-benar diusir dari ruang publik. Ia hidup terkadang dalam bisikan, terkadang dalam gema yang lantang dalam kurikulum pendidikan, dalam dialektika keagamaan, hingga dalam cara para elite membedah anatomi kekuasaan.

Untuk itu, Mari kita bicara angka sebagai cermin kecerdasan. Berdasarkan data International IQ Test 2026, Iran menempati peringkat ke-4 dunia dengan rata-rata skor IQ 104,8. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat berada di urutan ke-18 (101,04) dan Israel di posisi ke-48 (98,57).

Diatas Iran, hanya ada Jepang, China, dan Korea Selatan. Namun, ada catatan kaki yang tebal di sini: Iran meraih pencapaian kognitif tersebut di bawah tekanan pengucilan, sanksi ekonomi yang mencekik, agresi militer, dan embargo yang telah berlangsung selama lebih dari 46 tahun hampir setengah abad.

Bagaimana sebuah bangsa bisa tetap cerdas dan berani di bawah “penjara” global? Salah satu urat nadi ketangguhan ini adalah tradisi Hikmah Muta’aliyah sebuah mahakarya filsafat Islam yang disempurnakan oleh Mulla Sadra. Dalam cakrawala berpikir ini, pengetahuan bukanlah sekadar tumpukan informasi rasional atau hafalan teks yang gersang.

Pengetahuan bersifat eksistensial. Kebenaran tidak cukup hanya mampir di kepala; ia harus mengalir di pembuluh darah dan dialami sebagai realitas. Gagasan sentralnya adalah bahwa keberadaan (wujud) itu dinamis, terus bergerak, dan memiliki derajat intensitas. Hidup bukanlah sekadar upaya biologis untuk bertahan hidup (survival).

Hidup adalah proses “menjadi”. Dalam kerangka berpikir seperti ini, kematian tidak lagi dipandang sebagai jurang gelap yang mengakhiri segalanya, melainkan sebagai transisi menuju derajat keberadaan yang lebih tinggi.

Untuk itu, dari sinilah muncul fenomena yang oleh pengamat Barat dianggap “irasional”: ketenangan yang tak tergoyahkan dalam menghadapi risiko maut. Bahkan ketika para pemimpin tertinggi mereka dibunuh secara keji tanpa moralitas internasional, bangsa ini tidak runtuh dalam histeria. Mereka melihat kehilangan bukan sebagai lubang, melainkan sebagai benih yang akan menumbuhkan kesadaran baru.

Pemandangan ini menjadi sangat kontras jika kita membandingkannya dengan banyak masyarakat lain, termasuk yang secara formal memeluk  keyakinan yang sama. Di sebagian wilayah Timur Tengah, agama sering kali hadir hanya seebagai parade ritual, identitas kelompok, atau sekadar aksesoris politik. Ia kuat dalam balutan formalitas, namun keropos secara reflektif.

Akibatnya, keyakinan tersebut mudah terseret ke dalam arus pragmatisme yang dangkal. Hari ini mendukung satu posisi, besok berbalik arah, tergantung ke mana angin kekuasaan dan janji ekonomi berhembus. Tanpa filsafat, agama bisa menjadi sesuatu yang paradoks: sangat keras dalam simbol, namun sangat rapuh dalam makna.

Ia menjadi alat legitimasi yang kaku, bukan fondasi keberanian yang hidup. Filsafat justru memaksa manusia untuk berani bertanya dan yang lebih sulit berani menetap dalam pertanyaan itu cukup lama.

Ia melatih keraguan bukan untuk melemahkan iman, melainkan untuk mengikis kepalsuan. Ia membangun keteguhan yang sadar, sebuah kondisi di mana seseorang memilih untuk berani bukan karena buta terhadap bahaya, melainkan karena ia melihat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada rasa takutnya sendiri.

Dalam struktur politik Iran, pengaruh filsafat ini mewujud dalam konsep Wilayat al-Faqih. Meski penuh kontroversi dalam kacamata politik modern, sistem ini secara filosofis menggemakan gagasan klasik yang pernah disuarakan Plato ribuan tahun lalu tentang Philosopher-King (Raja-Filsuf).

Ada sebuah keyakinan bahwa kepemimpinan yang ideal harus memiliki dimensi intelektual dan moral yang melampaui kemampuan administratif semata. Tentu saja, realitas di lapangan selalu lebih berdebu dan rumit daripada teori yang tertulis di atas kertas. Namun, yang menarik untuk kita garis bawahi adalah pilihan arahnya: bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang harus terus-menerus “dipikirkan” dan “dipertanggungjawabkan secara eksistensial”, bukan sekadar dijalankan sebagai mesin birokrasi.

Filsafat tidak membuat seorang prajurit menjadi kebal peluru, tetapi ia membuat jiwa prajurit itu tidak bisa dikendalikan oleh ancaman. Orang yang terbiasa menyelami kedalaman berpikir tidak akan mudah terombang-ambing oleh propaganda murahan atau janji-janji oportunistik. Ia mungkin saja keliru, tetapi ia tidak akan mudah dibentuk oleh tekanan dari luar seperti tanah liat yang lembek.

Pada akhirnya, perbedaan paling fundamental antara bangsa-bangsa di masa depan bukan lagi terletak pada berapa banyak hulu ledak nuklir yang mereka miliki, atau seberapa besar cadangan emas di bank sentral mereka. Perbedaan itu terletak pada kedalaman cara mereka berpikir.

Selain itu, keberanian bukanlah sesuatu yang tiba-tiba mekar di tengah desing peluru. Ia lahir jauh sebelumnya di tempat-tempat yang sunyi: di pojok-pojok perpustakaan yang berdebu, di dalam ruang kelas yang memicu dialektika, dalam buku-buku yang menantang kemapanan berpikir, serta dalam percakapan-percakapan panjang yang tidak terburu-buru mencari kesimpulan. Di tempat-tempat yang sunyi itulah, sebuah bangsa belajar satu hal yang paling sulit di dunia ini: bagaimana cara untuk tetap berdiri tegak dengan kepala dingin, bahkan ketika dunia di sekelilingnya mulai goyah dan kehilangan kewarasannya.

Di saat yang lain hanya bisa hanyut dalam euforia yang tuna-logika mengikuti arus tanpa nalar, bangsa yang berpikir akan tetap diam sejenak, menimbang arah, lalu melangkah dengan kepastian seorang arsitek yang tahu persis di mana fondasi kebenarannya diletakkan.

Berita Populer

Warta Daerah

Ulukyanan : Masyarakat Menolak Transmigrasi di Kecamatan Kei Besar Utara Timur

Reporter Jecko Poetnaroeboen Editor: Wiratno MEDIAWARTANASIONAL.COM | MALUKU TENGGARA – Masyarakat kecamatan Kei besar utara timur Kabupaten MalukunTenggara,menyatakan sikap menolakn kehadiran warga ...

Warta Daerah

Pelantikan Pengurus PWI Laskar Sabilillah DK Jakarta Resmi Digelar

Reporter: Ilham Editor: Wiratno MEDIAWARTANASIONAL.COM | JAKARTA –Rabu, 9 April 2025 Pengurus Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI LS) Daerah ...

Warta Daerah

Sukseskan Program Asta Cita Presiden Dan Wapres RI

Reporter : Jecko Poetnaroeboen Editor: Rukmana MEDIAWARTANASIONAL.COM| TUAL Polres Tual Polda Maluku kembali menunjukan keseriusannya dalam mendukung Program Food Estate ...

Warta Daerah

Masyarakat Desa Banda Ely Kecewa, Dua Proyek Di SMP Alhilaal Yang Terbengkalai

Reporter : Jecko Poetnaroeboen Editor: Wiratno    MEDIA WARTA NASIONAL | MALUKU TENGGARA – Masyarakat ohoi/desa Banda Ely Kecamatan Kei besar ...

Warta DaerahWarta Ekonomi

Peresmian Kantor Cabang Baru KSP Parodana Artha Solution 

Reporter: Rigson Editor: Rukmana MEDIAWARTANASIONAL.COM – BEKASI – Ketua KSP Parodana Artha Solution, Robinsar Nainggolan, resmi membuka Kantor Cabang baru ...

Warta Daerah

Bentrok Antar Warga di Maluku Tenggara Puluhan Korban Luka dan Dua Tewas

Reporter : Jecko Poetnaroeboen Editor: Wiratno MEDIAWARTANASIONAL.COM | MALUKU TENGGARA – Bentrok antar dua kelompok warga kembali terjadi di kabupaten Maluku ...