Reporter : Jecko Poetnaroeboen

Editor : Wiratno

 

MEDIA WARTA NASIONAL | TUAL ‘ Memasuki bulan September 2026, masyarakat kota Tual Propinsi Maluku, masih saja mengalami kelangkaan dan mahalnya harga minyak tanah (MT),yang sudah terjadi sejak bulan juni 2026.

Melihat setiusi sulitnya masyarakat kota Tual, guna nutuk mendapatkan MT ini,salah satu Dosen STIA Darul Rachman Tual, Inay K Maranressy, S.Sos, M.AB kepada MWN melalui rilisnya kamis pagi (10/9) mengatakan dirinya hingga saat ini,belum melihat ada kepedulian dari pemerintah kota (Pemkot) Tual, untuk mengatasi terjadi kelangkahan dan mahalnya MT di kota Tual hingga saat ini,walaupun ada hanya sedikit kepedulian saja,karena terlihat sampai saat ini, masyarakat kota Tual, masih saja mencari.minyak tanah di wilayah Kabupaten Maluku Tenggara (Malra).

Kata,dosen Inay K Maranressy, kondisi yang cukup memprihatinkan adalah masyarakat kota Tual,tidak hanya mengalami kesulitan memperoleh minyak tanah, tetapi juga harus membelinya dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga HET Rp 4000/liter atau Rp 20.000/gen (5 liter),namun di jual oleh di beberapa tempat oleh oknum pangkalan dan pengecer MT dengan harga Rp 10.000/liter atau Rp 50.000/gen (5 liter),kenaikan harga MT ini, tentu cukup berat bagi masyarakat, khususnya keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana.

“ Sampai hari ini, tidak ada perhatian dari pemkot tual,warga masih cari minyak tanah di tual ini,kalau ada harga naik dari het 4000/liter jadi 10/liter bahkan,tidak ada mereka cari di maluku tenggara,ke ohoi – ohoi, baru dapat 1 atau 2 liter dengan harga yang tinggi juga, ” ungkap dosen Maranressy.’

Dosen,Inay Maranressy menambahkan, bagi sebagian warga minyak tanah dipandang sebagai salah satu jenis bahan bakar,namun bagi banyak warga minyak tanah merupakan kebutuhan penting untuk rumah tangga,untuk memasak dan menunjang aktivitas rumah tangga sehari-hari seperti di gunakan oleh UMKM untuk berjualan.

“ Minyak tanah bagi orang lain kurang penting, namun bagi kami rakyat kecil sangat penting untuk aktifitas rumah tangga kami, ” kata Maranressy.

Menurut, Dosen STIA Darul Rachman Tual,Inay K Maranressy bahwa masyarakat kota Tual berharap pemerintah kota Tual punya perhatian dan cepat.mengambil langkah yang konkrit untuk dapat.mengatasi kelangkaan dan.mahalnya BBM jenis minyak tanah, karena masyarakat kota Tual sangat berharap agar persoalan MT ini tidak dibiarkan berlarut-larut,karena kenaikan harga MT yang.melewati harga enceran tetap (HET) bukanlah persoalan kecil bagi keluarga yang memiliki penghasilan yang terbatas,sebab masyarakat kecil juga memiliki berbagai kebutuhan keluarga yang harus di atur dengan baik,seperti kebutuhan keluarga, baik itu kebutuhan rumah tangga, makan dan minum, pendidikan anak, usaha dll, sehingga masyarakat Kecil di kota Tual,tidak terbebani dengan mencari dan membeli MT.

“ Jadi pemkot tual tolong atasi masalah mitan di tual ini,jangan biarkan terlalu lama karena mitan sangat penting bagi masyarakat kecil, ” tambahNya.

Untuk itu, Dosen,Inay K Maranressy meminta kepada pemkot Tual agar mengevaluasi proses pendistribusian minyak tanah oleh agen MT dari pihak pertamina.ke pangkalan dan pangkalan ke masyarakat,sehingga kota Tual, tidak ada lagi,terjadi kelangkahan dan mahalnya MT serta.juga melakukan pengawasan untuk.menangkap para oknum pelaku yang suka bermain MT selama ini di kota Tual.

Sehingga masyarakat kota Tual, merasa aman dengan adanya jaminan ketersediaan minyak tanah yang cukup untuk.kebutuhan masyarakat sehari – hari,dengan kepastian harga yang wajar dan sesuai ketentuan yang berlaku yaitu Rp 4000/liter atau Rp 20.000/gen (5 liter),serta apabila ditemukan praktik penimbunan atau penjualan dengan harga yang tidak sesuai dengan HET kiranya di proses hukum,selain itu juga.pemkot Tual membuka ruang pengaduan oleh masyarakat yang mudah diakses masyarakat ketika terjadi kelangkaan atau kenaikan harga.minyak tanah.

“ Saya minta pemkot untuk efaluasi dan pengawasan kepada pertamina, agen, pangkalan dan pengecer mitan untuk tangkap yang nakal, ” ungkap Maranressy.

Maranressy menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud untuk menyalahkan pihak manapun pada masalah MT ini,namun keresahan ini disampaikan sebagai aspirasi dan harapan agar persoalan kelangkaan BBM jenis MT,dapat segera dicarikan solusi bersama,karena masyarakat juga percaya bahwa pemerintah kota Tual,memiliki kepedulian terhadap kondisi rakyat saat ini. Sehingga masyarakat menyampaikan keluhan, hendaknya keluhan tersebut dipandang sebagai masukan untuk perbaikan, bukan sebagai bentuk perlawanan.