Reporter: Jecko Poetnaroeboen
Editor : Wiratno
Baca Juga:
MEDIA WARTA NASIONAL | MALUKU ‘ Pamela Tasya Reselwab adalah seorang perempuan asal Ohoi Tutrean, Maluku Tenggara. Dia pernah menjadi karyawan perusahaan mutiara PT Lik di Pulau Lik, dengan status buruh harian lepas. Karena mendapat pengalaman pahit di sana, dia mengundurkan diri.
Setelah berhenti kerja, Pamela menyimpan sendiri semua pengalaman pahit di PT Lik. Akan tetapi kematian karyawati PT Lik Veronika Rahanyanat secara tidak wajar membuat dia keluar angkat suara.
Melalui sebuah video testimoni yang dibuatnya, Pamela bercerita pernah mempunyai pengalaman buruk di PT Lik.
“Saya ingin bercerita tentang pengalaman pahit saya bekerja di Perusahaan Lik Mutiara,” ujar Pamela membuka testimoni.
Pamela pun bercerita, dirinya masuk ke Perusahaan Lik Mutiara 11 November 2025. Dia mengikuti seorang saudara perempuan, yang mengajaknya bekerja di sana.
Selama bekerja di Pulau Lik, kata Pamela, dia pernah menyaksikan seorang rekan kerja terjatuh dengan kondisi kakinya memar-memar. Kondisi karyawan itu tidak mendapat perhatian sama sekali. Korban kecelakaan kerja itu tidak mendapat pertolongan pertama, juga tidak diberi kesempatan berobat ke kota.
“Padahal memar di kaki itu sudah cukup parah,” kata Pamela.
Pamela punya pengalaman pribadi yaitu ketika gelombang tinggi dan hujan deras.
“Kita dipaksa untuk tetap bekerja dalam kondisi yang sebenarnya tidak bisa untuk bekerja. Dalam keadaan basah, kita dipaksa bekerja terus, tidak peduli laki-laki atau perempuan, kita disuruh siap siaga,” ungkap Pamela.
Pamela melanjutkan, pengalaman yang membuat dirinya sakit hati adalah ketika dirinya pernah jatuh. Saat itu, dia tidak ditolong oleh sesama karyawan, melainkan dijadikan bahan lelucon sesama karyawan.
Pengalaman lain, kata Pamela, dia dan karyawan-karyawan lain pernah tiga hari tidak diberi makan. Semua karyawan tidak diberi makan selama tiga hari, dan tetap disuruh harus bekerja sambil diejek.
“Memangnya kalau seng makan berapa hari, kamong su mati,” kata atasannya kepada para karyawan, sebagaimana ditiru Pamela.
Pamela mengaku tidak tahan bekerja di perusahaan mutiara Pulau Lik. Bulan Desember 2025, dia mengundurkan diri.
“Karena memang sudah tidak kuat, tiga hari tahan lapar tetapi dipaksa kerja, maka saya putuskan keluar dari perusahaan,” ungkap Pamela dalam video berdurasi 02.43 menit.
Pamela Reselwab: Singkat Tapi Tersiksa,
Jadi Karyawati Perusahaan Lik Mutiara
Eks karyawan PT Lik Mutiara di Pulau Lik Pamela Tasya Reselwab mengaku hanya bekerja singkat, November-Desember 2025, namun cukup membuatnya sakit hati. Selain membuat video testimoni, dia pun membuka lebih jauh kondisi pekerja di perusahaan milik Herman Sukendy, putera Raja Mutiara Robert Sukendy.
Pamela mengaku kepada Media Warta Nasional (MWN) melalui telepon selulernya. Kamis (5/3/2026), dia tidak pernah bertemu bos Perusahaan Lik Mutiara Herman Sukendy. Dia hanya tau ada direktur dan mandor-mandor.
Menurut Pamela, dirinya bekerja tanpa kontrak kerja, hanya berstatus buruh harian lepas. Upah kerja sebagai karyawan yang mengurus budidaya siput mutiara tersebut adalah Rp50 ribu per hari.
“Satu hari Rp50 ribu, dibayar dua minggu sekali,” jelas Pamela.
Ketika ditanya tentang makan-minum, Pamela bersaksi, makanan utama di perusahaan itu adalah nasi dan mie instan. Ikan, daging, sayuran hijau tidak pernah ada.
“Kalau mau makan ikan, bisa tangkap sendiri. Kalau mau makan sayur, boleh tanam sendiri,” ungkap perempuan asal Ohoi Tutrean itu.
Pengalaman pahit Pamela dan seluruh karyawan adalah pernah tidak diberi makan tiga hari sambil tetap bekerja seperti biasa. Dalam situasi itu, Pamela mengaku pergi mencari siput di laut untuk dimakan.
Selama bekerja, Pamela mengaku tidak diberi pakaian kerja yang aman di laut, kecuali sarung tangan dari kain. Sarung tangan itu tidak tahan karena gampang sobek, dan tidak diberikan yang baru. Sebab itu, tertusuk duri di tangan sampai berdarah, itu sudah biasa dan tidak ada penanganan.
Selain tidak ada pakaian kerja khusus yang melindungi fisik karyawan, Pamela mengaku tidak tidur di tempat yang nyaman. Karyawan-karyawan hanya tidur di tikar. Kalau mau pakai bantal dan kasur, harus bawa sendiri dari rumah.
“Saya tidur di lantai saja,” kata Pamela.
Karena tidak tahan dengan kondisi kerja di Perusahaan Lik Mutiara, Pamela memutuskan mengundurkan diri. Setelah peristiwa kematian Veronika Rahanyanat yang diduga mengalami kekerasan di perusahaan tersebut, Pamela yang selama ini menyimpan pengalaman pahitnya muncul memberi testimoni melalui sebuah video pendek.














