Reporter : Bunga

Editor : Wiratno

 

 

MEDIA WARTA NASIONAL | JAKARTA –Pencegahan stunting tidak cukup hanya dilakukan melalui intervensi tenaga kesehatan. Peran masyarakat, khususnya kader kesehatan dan keluarga, menjadi salah satu faktor penting agar upaya pencegahan dapat berlangsung secara berkelanjutan hingga tingkat rumah tangga.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Poltekkes Kemenkes Jakarta III melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) bertajuk “Penguatan Peran Kader Kesehatan sebagai TPK (Tim Pendamping Keluarga) dalam Memandirikan Masyarakat untuk Pencegahan Stunting dengan Memberdayakan Kelompok Lansia Peduli ASI (KLP-ASI) di Kelurahan Pondok Rangon Jakarta Timur Tahun 2026.”

Program yang berlangsung di Kelurahan Pondok Rangon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, tersebut mengusung pendekatan kolaboratif dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta III, pemerintah kelurahan, Puskesmas, kader kesehatan, serta kelompok lansia.

Kegiatan Pengabmas PPDM ini diketuai oleh Ns. Deswani, M.Kes., Sp.Mat, bersama tim yang terdiri atas Dr. Titi Sulastri, S.Kp., M.Kes., Ani Kusumawati, S.ST., M.Keb., Andi Sari Bunga Untung, SKM., M.Sc., PH., Dr. Santun Setiawati, S.Kep, M.Kep, Ns.Sp.Kep.An, Dr. Jathu Dwi Wahyuni, M.Kep, Dr. Dita Sulistyowati, Ns.,S.Kep, M.Kep, dan Egiesta Amalia, AMK.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun kekuatan masyarakat dari tingkat komunitas hingga keluarga. Kader diperkuat agar mampu menjalankan fungsi pendampingan keluarga, sementara lansia diberdayakan melalui Kelompok Lansia Peduli ASI (KLP-ASI) sebagai bagian dari lingkungan pendukung bagi ibu menyusui dan keluarga dengan balita.

Kader Tidak Sekadar Pelaksana, tetapi Pendamping Keluarga

Dalam program ini, kader kesehatan ditempatkan sebagai salah satu ujung tombak pendampingan keluarga. Mereka tidak hanya menerima materi pelatihan, tetapi juga dibekali keterampilan untuk melakukan edukasi, komunikasi dengan keluarga, kunjungan rumah, serta pencatatan dan pelaporan hasil pendampingan.

Poltekkes Jakarta III Layani Masyarakat

Tim dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta III memberikan penguatan pengetahuan, keterampilan, simulasi, serta pendampingan lapangan. Sementara itu, Kelurahan Pondok Rangon dan Puskesmas berperan dalam mendukung pelaksanaan program di wilayah masyarakat.

Kader kemudian diarahkan untuk menerapkan keterampilan yang diperoleh melalui kunjungan langsung ke rumah sasaran. Pendekatan ini diharapkan membuat kader lebih siap menghadapi kondisi nyata di lapangan sekaligus mampu memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah pelaporan digital menggunakan Google Form. Sistem ini digunakan untuk membantu kader melakukan pencatatan hasil pendampingan secara lebih terstruktur sehingga data dapat menjadi bahan monitoring dan evaluasi program.

Lansia Jadi Bagian dari Gerakan Pencegahan Stunting

Keunikan program Pengabmas PPDM ini terletak pada pelibatan lansia melalui Kelompok Lansia Peduli ASI (KLP-ASI).

Lansia tidak ditempatkan hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi didorong menjadi bagian dari lingkungan sosial yang memberikan dukungan kepada ibu menyusui dan keluarga dengan anak usia dini.

Melalui KLP-ASI, lansia diharapkan dapat ikut membangun suasana yang mendukung keberhasilan pemberian ASI dan MP-ASI, sekaligus menjadi bagian dari jejaring masyarakat dalam upaya pencegahan stunting.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi lintas generasi. Kader berperan dalam pendampingan keluarga, sedangkan lansia dapat berkontribusi melalui dukungan sosial di lingkungan masyarakat.

“Kader diperkuat, lansia diberdayakan, dan keluarga didampingi” menjadi semangat utama program tersebut.

Tiga Hari Pelatihan, dari Teori hingga Praktik Lapangan

Rangkaian kegiatan pembukaan dan pelatihan dimulai pada Selasa, 1 September 2026, di Kantor Kelurahan Pondok Rangon. Pelatihan berlangsung selama tiga hari, 1–3 September 2026, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.

Pada hari pertama, peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal sebelum mendapatkan materi. Materi yang diberikan antara lain mengenai peran kader balita dan lansia dalam pembentukan KLP-ASI–MP-ASI, peran lansia dalam mendukung pemberian ASI dan MP-ASI, prinsip pemberian ASI dan MP-ASI, serta pengenalan menu MP-ASI lokal bergizi berbasis bahan sehari-hari.

Materi tersebut diarahkan pada praktik yang dapat diterapkan keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai pentingnya ASI dan MP-ASI, tetapi juga dibekali cara memberikan edukasi yang mudah dipahami masyarakat.

Pada hari kedua, pelatihan dilanjutkan dengan materi dan demonstrasi mengenai penanganan masalah selama menyusui, resep dan porsi MP-ASI, penyajian MP-ASI, serta teknik pendampingan keluarga melalui kunjungan rumah.

Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai sistem pelaporan digital sebagai bagian dari penguatan keterampilan kader.

Dari Ruang Pelatihan Langsung Turun ke Rumah Sasaran

Pembekalan kemudian dilanjutkan dengan praktik lapangan pada Kamis, 3 September 2026. Peserta mengikuti uji coba lapangan, orientasi pelaporan, serta simulasi kunjungan rumah.

Kader dan calon anggota KLP-ASI dibagi berdasarkan wilayah RW 01 hingga RW 06. Setiap wilayah didampingi oleh seorang fasilitator.

Sebelum turun ke lapangan, peserta mendapatkan briefing, pembagian kelompok kerja, berkas pendampingan, serta peta lokasi sasaran. Mereka juga melakukan simulasi pengisian pelaporan digital menggunakan telepon pintar masing-masing.

Setiap kelompok kemudian mengunjungi dua sasaran, yakni satu ibu menyusui dengan bayi berusia di bawah enam bulan dan satu ibu dengan balita berusia di bawah 24 bulan.

Dalam kunjungan tersebut, kader mempraktikkan komunikasi efektif dengan keluarga, memberikan edukasi mengenai ASI eksklusif, memberikan dukungan kepada ibu menyusui, mengobservasi praktik pemberian MP-ASI, serta memberikan edukasi mengenai pemberian makanan tambahan (PMT) lokal.

Kegiatan lapangan menjadi ruang pembelajaran penting bagi kader untuk menguji secara langsung keterampilan yang telah diperoleh selama pelatihan.

Setelah kunjungan selesai, seluruh kelompok kembali ke posko untuk mengikuti refleksi, evaluasi, dan debriefing. Masing-masing kelompok menyampaikan pengalaman, kendala, serta masukan yang ditemukan selama berada di lapangan.

Tim Pengabmas dan fasilitator kemudian memberikan penguatan untuk memastikan kader memahami langkah pendampingan sekaligus mekanisme pelaporan digital.

Mahasiswa Belajar dari Masyarakat

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis masyarakat bagi mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jakarta III.

Mahasiswa terlibat dalam edukasi, pendampingan, simulasi, serta interaksi langsung dengan kader dan masyarakat. Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan kompetensi keperawatan, khususnya dalam aspek promotif dan preventif, di luar lingkungan kampus.

Keterlibatan mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan antara institusi pendidikan dan masyarakat dalam menjawab persoalan kesehatan yang ada di tingkat komunitas.

Pendampingan Berlanjut Setelah Pelatihan

Program Pengabmas PPDM ini dirancang tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Setelah praktik lapangan, kader diarahkan untuk melaksanakan pendampingan secara rutin selama satu bulan di wilayah masing-masing.

Hasil pendampingan akan dicatat melalui sistem digital dan menjadi bahan monitoring serta evaluasi tim.

Pada tahap akhir, kegiatan direncanakan mencakup evaluasi hasil pendampingan, penyampaian capaian program, evaluasi bersama, serta pembentukan dan pelantikan KLP-ASI–MP-ASI. Program juga direncanakan memberikan apresiasi kepada kelompok terbaik sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi dan kinerja kader.

Selain itu, Poltekkes Kemenkes Jakarta III bersama mitra merencanakan penyerahan sertifikat serta sarana pendukung program sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kegiatan di masyarakat.

Melalui program ini, Poltekkes Kemenkes Jakarta III mendorong terbentuknya model pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga membangun keterampilan, jejaring dukungan, dan kemandirian masyarakat.

Di Pondok Rangon, pencegahan stunting didorong untuk menjadi gerakan bersama. Ketika kader mampu mendampingi keluarga, lansia ikut menjadi bagian dari lingkungan pendukung, dan masyarakat terlibat aktif, upaya menjaga tumbuh kembang anak dapat dilakukan lebih dekat dari rumah.

Dari Pondok Rangon, kolaborasi lintas generasi menjadi langkah bersama untuk membangun keluarga yang lebih mandiri, masyarakat yang lebih peduli, dan anak-anak yang tumbuh optimal.