Reporter : Panji
Editor : Wiratno
Baca Juga:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Artinya, “Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiaran ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).
MEDIA WARTA NASIONAL | BEKASI – Kutipan Hadist (Firman Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad) ini mengajak kita berfikir keras terkait korelasi antara berbuka dan berjumpa dengan Tuhan (Allah).
Menurut Ketua Umum Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (Forum PWI), Rukmana, S.Pd,I., C.PLA, dalam hadist tersebut dinyatakan bahwa ada dua kegembiraan bagi orang yang melaksanakan shaum, satu ketika berbuka dua berjumpa dengan Allah.
“Pada umumnya, orang mengartikan berbuka adalah makan atau minum, padahal, maksud berbuka dalam hadist tersebut bukan makan atau minum, melainkan berbuka secara hakikat yaitu membuka mata hati (kolbu) kita sehingga kita juga mengenal istilah ta’zil (bahasa arab) yang artinya segerakan tapi di Indonesia ta’zil itu makanan berbuka puasa seperti lontong, tahu isi, kolak, kurma dan lain – lain, sehingga esensi shaum menjadi kosong atau hampa”, tutur Rukmana Jum’at 20/02/2926 di Kediamannya, Bekasi.
Lanjut Rukmana, apa korelasi ta’zil, berbuka dan berjumpa dengan Allah bagi orang yang shaum ? , ta’zil itu segera, apa yang disegerakan ? , adalah berbuka, apa yang dibuka ? , yaitu hati (kolbu) kita untuk kemudian berjumpa dengan Sang Maha Pencipta Allah Azawajalla, karena hanya dengan kolbu kita dapat merasakan kehadiran – Nya. Bukan makanan yang dapat menjumpakan kita dengan Allah, tetapi kolbu kita mata hati kita yang terbuka karena mampu menahan (shaum) pikiran, nafsu dan ego kita selama Ramadhan.
Lebih jauh Rukmana menerangkan, kita juga mengenal istilah imsak (bahasa arab) yang artinya akhirkan, apa yang diakhirkan ? , yakni kebodohan dalam memahami posisi Allah dalam kehidupan kita, setelah terbuka mata hati dan berjumpa dengan Allah maka Imsak, pertahankan jangan ditutup lagi mata hati kita.
“Maka siapa yang berhasil shaum (menahan) nafsu, ego dan pikirannya dari hal – hal yang merugikan orang lain, merusak tatanan kehidupan rumah tangga, lingkungan bangsa dan negaranya Ia akan terbuka mata hati (kolbu) nya dan berjumpa dengan Allah serta Idul (kembali) Fitri (Fitrah / suci/ di jalan yang Allah gariskan), selamat menempa diri menuju Sang khalik mencapai kebahagiaan”,, pungkasnya.

















