Reporter: Ilĥam
Editor: Wiratno
Baca Juga:
MEDIA WARTA NASIONAL| JAKARTA – Aksi solidaritas masyarakat yang awalnya diniatkan sebagai pertemuan damai untuk meminta klarifikasi dan permintaan maaf Ahmad Sahroni, berujung ricuh. Ribuan warga yang mendatangi kediaman politikus NasDem itu, Sabtu (30/8/2025), kehilangan kesabaran setelah tuan rumah tak kunjung menampakkan diri.
Pantauan lapangan menunjukkan, massa mulai berdatangan sejak pukul 13.00 WIB ke rumah Sahroni di kawasan Kebon Bawang, Jakarta Utara. Awalnya, komunikasi berjalan tenang. Namun, pada pukul 16.28 WIB, situasi berubah drastis. Panggilan berulang kali tidak digubris, dan penghuni rumah tak keluar. Massa yang frustrasi akhirnya melempari rumah dengan batu dan benda lain di sekitar lokasi. Pagar rumah yang tertutup rapat tak mampu menahan desakan massa. Dorongan semakin liar, hingga kerumunan merangsek masuk dan terjadilah amuk di dalam kediaman.
Hingga berita ini diturunkan, keberadaan Ahmad Sahroni belum diketahui. Sejumlah spekulasi beredar, termasuk kabar bahwa ia berada di Singapura. Namun, informasi itu belum terkonfirmasi.
Ucapan Kontroversial yang Menyulut Amarah
Nama Sahroni kian menjadi sorotan sejak pernyataannya di Polda Sumatera Utara, 22 Agustus lalu. Ia menyebut kelompok masyarakat yang mendesak pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia.” Ucapan itu dianggap melecehkan publik, terutama mereka yang tengah kecewa dengan kebijakan DPR terkait kenaikan tunjangan dewan di tengah situasi ekonomi sulit.
Tak berhenti di situ, Sahroni juga membela fasilitas jumbo bagi anggota DPR. “Jadi jangan dilihat karena nilai uangnya, wow, fantastis. Nggak, itu biasa sebenarnya,” katanya. Pernyataan yang dianggap meremehkan jeritan rakyat kecil ini mempertebal kemarahan.
Kegeraman publik semakin besar ketika gaya hidup mewah Sahroni terkuak di media sosial. Dari koleksi mobil Ferrari hingga Porsche, sampai properti senilai Rp139 miliar. Warganet menyebarkan alamat rumahnya, yang kemudian menjadi titik kumpul aksi protes.
Dampak Politik: Kursi yang Hilang, Kepercayaan yang Terkikis
Kontroversi itu berbuntut cepat di Senayan. Sahroni dicopot dari jabatan Wakil Ketua Komisi III DPR dan digeser ke Komisi I. Namun, keputusan internal partai tak cukup meredam gejolak. Bagi massa, pencopotan jabatan hanyalah langkah kosmetik.
Gelombang unjuk rasa sebelumnya juga sempat mengguncang Kompleks DPR/MPR RI pada 25 Agustus 2025. Ribuan massa menuntut pencabutan tunjangan jumbo serta percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset. Aksi di depan Gedung DPR itu menandai membuncahnya ketidakpuasan publik terhadap perilaku wakil rakyat yang dianggap tak aspiratif.
Masa Depan DPR: Di Persimpangan Kepercayaan
Peristiwa di rumah Ahmad Sahroni memperlihatkan betapa tipisnya jarak antara kekecewaan rakyat dan ledakan kemarahan kolektif. Solidaritas warga Jakarta Utara menjadi simbol ketidakpercayaan yang kian menebal terhadap DPR.
Kini, lembaga legislatif berada di persimpangan. Apakah mereka mampu meraih kembali kepercayaan publik, atau justru semakin terjerembab dalam jurang ketidakpedulian rakyat?
Untuk itu, para wakil rakyat dituntut melakukan refleksi serius: mengutamakan transparansi anggaran, membuka ruang partisipasi publik, serta menindak tegas anggotanya yang hidup berlebihan dan abai pada jeritan rakyat.
Kerusuhan di Kebon Bawang adalah cermin. Cermin dari wakil rakyat yang lupa daratan, dan dari rakyat yang sudah terlalu lama menahan sabar.