Oleh: Novita Sari Yahya
MEDIA WARTA NASIONAL | JAKARTA’ Pertanyaan yang kerap muncul dalam diskusi geopolitik adalah mengapa Iran tidak memilih menyerah, meskipun tekanan eksternal dan ancaman terhadap para elitnya terus terjadi. Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban sederhana, karena berkaitan dengan sejarah panjang, identitas nasional, serta cara suatu masyarakat memaknai kehormatan kolektif.
Baca Juga:
Iran bukan sekadar negara modern. Negara ini merupakan kelanjutan dari peradaban Persia yang telah bertahan selama ribuan tahun. Kesadaran akan sejarah tersebut membentuk identitas yang relatif kuat, termasuk dalam menghadapi tekanan dari luar. Dalam berbagai kajian, faktor historis semacam ini sering dikaitkan dengan daya tahan suatu bangsa.
Negara yang memiliki kesadaran sejarah umumnya tidak hanya mempertahankan wilayah, tetapi juga menjaga simbol dan makna yang dianggap penting. Dalam konteks ini, sikap politik Iran yang kerap terlihat tegas dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga posisi dan martabatnya.
Meski demikian, kemampuan Iran untuk bertahan dalam konflik berskala besar tidak dapat dipastikan. Perang modern dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain aliansi internasional, kekuatan logistik, kondisi ekonomi, stabilitas dalam negeri, serta dukungan masyarakat. Karena itu, setiap prediksi mengenai hasil konflik besar pada dasarnya bersifat terbuka.
Situasi menjadi lebih kompleks ketika muncul pernyataan dukungan dari negara lain. Dalam sejumlah laporan media internasional, beberapa aktor disebut memberikan dukungan politik kepada Iran. Namun, pernyataan semacam ini perlu dipahami sebagai bagian dari komunikasi politik, bukan jaminan keterlibatan militer secara langsung.
Pelajaran dari Sejarah
Sejarah menunjukkan bahwa konflik besar hampir selalu melibatkan banyak pihak. Dalam perang dunia kedua faktanya kemenangan Sekutu tidak ditentukan oleh satu negara, melainkan oleh kerja sama yang luas dengan dukungan sumber daya dan strategi yang terkoordinasi.
Iran sendiri memiliki pengalaman konflik yang panjang, terutama dalam perang Iran-Irak berlangsung dari tahun 1980-1988. Perang tersebut berlangsung selama delapan tahun dan berakhir tanpa kemenangan mutlak. Pengalaman ini sering disebut berpengaruh terhadap cara Iran membangun strategi pertahanannya, yaitu dengan menekankan ketahanan dan kemampuan beradaptasi.
Sejumlah laporan internasional juga menyebutkan bahwa Iran terus mengembangkan kapasitas pertahanan tertentu, termasuk teknologi rudal, meskipun berada di bawah tekanan sanksi. Hal ini dapat dilihat sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi eksternal sambil memperkuat kemampuan internal secara bertahap.
Refleksi untuk Indonesia
Pertanyaan serupa relevan untuk Indonesia: sejauh mana ketahanan nasional telah dibangun secara mandiri. Dalam bidang pertahanan, Indonesia masih berada dalam tahap penguatan industri dalam negeri. Gagasan kemandirian sudah lama menjadi tujuan, namun pelaksanaannya menghadapi berbagai kendala, terutama dalam hal teknologi dan kapasitas produksi.
Isu yang dihadapi bukan sekadar pembelian alat utama sistem senjata dari luar negeri, tetapi juga bagaimana memastikan adanya transfer teknologi, peningkatan riset, serta penguatan industri nasional. Dalam sistem global yang saling terhubung, kerja sama tetap diperlukan, tetapi kemandirian strategis tetap menjadi tujuan jangka panjang.
Dalam konteks ini, “harga diri bangsa” dapat dimaknai secara lebih konkret, yaitu kemampuan suatu negara untuk menjaga kedaulatan dalam mengambil keputusan dan menentukan arah masa depannya. Ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh ekonomi, pendidikan, tata kelola, dan kohesi sosial.
Penutup
Pelajaran dari Iran tidak perlu ditiru secara langsung, tetapi dapat dipahami sebagai bahan refleksi. Ketahanan suatu bangsa dipengaruhi oleh sejarah, identitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap tekanan.
Indonesia memiliki modal besar dalam bentuk sejarah dan keberagaman. Tantangannya adalah bagaimana mengelola modal tersebut menjadi kekuatan nyata melalui kebijakan yang konsisten, visi jangka panjang, serta pembangunan kapasitas di berbagai bidang strategis.
:
Daftar Pustaka
Abrahamian, E. (2008). A history of modern Iran. Cambridge University Press.
Axworthy, M. (2013). Revolutionary Iran: A history of the Islamic Republic. Penguin Books.
Buzan, B. (1991). People, states and fear: An agenda for international security studies in the post-cold war era (2nd ed.). Lynne Rienner Publishers.
Cordesman, A. H. (2007). Iran’s military forces and warfighting capabilities. Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Hinnebusch, R., & Ehteshami, A. (Eds.). (2002). The foreign policies of Middle East states. Lynne Rienner Publishers.
Katzman, K. (2020). Iran’s foreign and defense policies (CRS Report No. R44017). Congressional Research Service.
Lapidus, I. M. (2014). A history of Islamic societies (3rd ed.). Cambridge University Press.
Smith, A. D. (1991). National identity. University of Nevada Press.
Suryadinata, L. (2017). The making of Southeast Asian nations: State, ethnicity, indigenism and citizenship. ISEAS – Yusof Ishak Institute.
Tempo Institute. (2021). Ketahanan nasional dan kemandirian industri pertahanan Indonesia. Tempo Publishing.














