Oleh : Rukmana, S.Pd,I., C.PLA
Baca Juga:
MEDIA WARTA NASIONAL | BEKASI – Peringatan perjalanan spiritual Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam (SAW) dalam mengenal tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT digelar di Masjid Al-Ikhlas, Perum Villa Gading Harapan V, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Kegiatan keagamaan yang mengusung tema “Dengan Memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Mari Kita Jadikan Sebagai Momentum Transformasi Diri Menuju Pribadi yang Disiplin dalam Ibadah” tersebut dilaksanakan pada Minggu, 1/02/2026, bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Tahun 1447 Hijriah / 2026 Masehi.
Acara ini dihadiri oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat, di antaranya Ustadz Nurhadi Mulyo, S.Pd.I, Ustadz Sumarjan, S.Pd, Darmansyah, Saefudin Ketua DKM Masjid Al – Ikhlas, Faisal selaku Ketua RT 14 RW 12, Sri Waluyo Ketua RT 13, para Ketua DKM se-RW 12, Majelis Ta’lim Miftahul Jannah yang dipimpin oleh Ustadzah Siti Maswah dan ratusan jama’ah Masjid Al – Ikhlas.

Peringatan Isra Mi’raj tersebut semakin khidmat dengan lantunan marawis dari Majelis Ta’lim Miftahul Jannah, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh anak-anak binaan TPA Masjid Al-Ikhlas, dilanjutkan dengan santunan kepada 25 anak yatim RW 12. Puncak acara diisi dengan ceramah agama oleh KH. Aminullah Asmawi, M.Pd, selaku penceramah utama.
Dalam tausiyahnya, KH. Aminullah Asmawi menyampaikan pesan-pesan keilahian yang menekankan kemuliaan masjid sebagai pusat ibadah dan pembentukan kesadaran spiritual umat.
“Masjid dan mushalla adalah tempat yang paling dimuliakan. Maka bagi kita yang bisa hadir dan beribadah di masjid, sungguh termasuk orang-orang yang beruntung,” ujar Aminullah di hadapan jamaah.
Ia juga mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, “Tidaklah duduk suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, melainkan para malaikat akan bersama mereka,” tuturnya.
Perjalanan keilahian manusia pilihan yang kemudian dinobatkan sebagai Nabi pembawa risalah besar, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, telah diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dalam ayat terkait telah dijelaskan secara tegas bahwa Nabi Muhammad SAW diperjalankan dalam perjalanan tauhid atau keilahian untuk diperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah, bukan untuk berjumpa atau melihat wujud Allah secara langsung. Sebab Allah berbeda dari segala yang ada, tidak menyerupai apa pun, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ikhlas ayat 1 sampai ayat 4.
Momentum Isra Mi’raj sejatinya menjadi ruang refleksi mendalam atas perjalanan spiritual Nabi dalam mengenal kebesaran Sang Khalik, sekaligus membangun kesadaran bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan kebutuhan hakiki manusia untuk terhubung dengan Allah dan Rasul-Nya.
Ketika manusia benar-benar terkoneksi dengan Sang Khalik melalui shalat yang penuh kesadaran, maka akan lahir pribadi yang rendah hati, tidak tamak, tidak korup, dan tidak merusak. Shalat yang dijalankan secara sadar akan melahirkan manusia yang hidup memberi manfaat bagi sekelilingnya.
Substansi Isra Mi’raj adalah memahami makna shalat secara substantif, bukan sekadar formalitas ritual. Secara lughawi, shalat berasal dari kata silah yang berarti hubungan atau koneksi yakni keterhubungan manusia dengan Sang Khalik secara sadar, bukan karena doktrin surga atau neraka semata.
Allah SWT menegaskan pentingnya kesadaran dalam shalat sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 43:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati salat ketika kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”
Ayat ini menegaskan bahwa shalat harus dilaksanakan dalam kondisi sadar, karena dari kesadaran itulah lahir nilai-nilai keadaban, kejujuran, dan kemanusiaan yang menjadi esensi ajaran Islam.


















