Reporter : Boenga
Editor : Wiratno
Baca Juga:
MEDIA WARTA NASIONAL | JAKARTA’ Masa depan sebuah bangsa tidak diukur dari gedung pencakar langitnya, tetapi dari kualitas generasi yang tumbuh di dalamnya.
Di Jakarta Timur, kualitas itu kini sedang diuji oleh persoalan stunting. Angka prevalensi yang masih ada mengingatkan kita bahwa pekerjaan rumah menurunkan stunting belum selesai.
Anak dengan stunting hari ini, adalah potensi yang hilang 20 tahun ke depan. Karena itu, percepatan penurunan stunting harus menjadi prioritas bersama, bukan hanya agenda satu dinas.

Pengalaman selama ini menunjukkan, program yang berjalan sendiri-sendiri sulit memberi dampak signifikan. Edukasi gizi tanpa data lapangan jadi kurang tepat sasaran.
Bantuan pangan tanpa perubahan perilaku gampang kembali ke pola lama. Rapat lintas sektor tanpa tindak lanjut hanya jadi seremonial. Maka jawabannya ada pada satu kata: integrasi.
Integrasi antara Bina Wilayah, Diseminasi, dan Advokasi Lintas Sektor adalah formula yang paling masuk akal untuk Jakarta Timur.
Poltekkes Kemenkes jakarta III berkolaborasi dengan Srikandi Teratai FKBN RI juga lurah Malaka jaya dan Pustu Malaka jaya mengadakan penyuluhan dan CKG ( cek kesehatan gratis ).

Direktur Poltekkes Kemenkes jakarta III yang diwakili oleh kapuslitmas Poltekkes Kemenkes jakarta III mengatakan, “Bina Wilayah dari data menjadi aksi nyata
bina wilayah menempatkan pemerintah dan kader lebih dekat dengan keluarga. Di kelurahan dan RW, petugas kesehatan, PKK, pendamping PKH, serta aparatur wilayah bisa melihat langsung kondisi ibu hamil, balita, dan lingkungan rumah, ” katanya.
” Dari sinilah lahir data mikro yang jujur. Data ini penting agar bantuan PMT, konseling gizi, dan rujukan kesehatan tidak salah alamat. Bina wilayah memastikan tidak ada keluarga yang “tak terlihat” dalam program , ” pungkasnya.
Nyimas Hertati selaku ketua Srikandi Teratai FKBN RI memberikan
Diseminasi: Pesan Gizi yang Menyentuh dan Membumi.
“Pengetahuan tidak akan mengubah perilaku jika cara menyampaikannya tidak tepat. Diseminasi di Jakarta Timur harus memanfaatkan kekuatan komunitas: organisasi, majelis ta’lim, arisan PKK, posyandu, grup whatssap RT/RW, hingga sekolah”, tuturnya.
Pesan tentang gizi seimbang, MPASI kaya protein hewani, dan sanitasi perlu dikemas sederhana, visual, dan bisa langsung dipraktikkan ibu – ibu di dapur. Ketika pesan yang sama disampaikan secara konsisten oleh banyak pihak, maka akan terbentuk norma baru: “Anak Jakarta Timur harus tumbuh sehat dan cerdas”, tandasnya.
Dr. Roikhatul Jannah , MPH selaku kapuslitmas Poltekkes Kemenkes jakarta 3 mengatakan , “Advokasi Lintas Sektor: Satu Meja, Satu Komitmen, stunting adalah masalah multisektor. Dinas Kesehatan menangani aspek medis. Dinas Pendidikan menanamkan pola hidup sehat sejak PAUD. Dinas Sosial menjaga keluarga rentan. Dinas Ketahanan Pangan memastikan akses pangan bergizi. Kelurahan dan kecamatan menjadi orkestrator di lapangan. Dunia usaha dan filantropi bisa menjadi mitra”, terangnya.
Ia juga menambahkan, Advokasi lintas sektor tujuannya sederhana: menyatukan semua aktor di satu meja, dengan satu data, satu rencana aksi, dan satu target. Ketika ego sektoral dikesampingkan, anggaran dan program jadi lebih efektif”, tegasnya.
Lurah Malaka jaya Eko Purnomo Asih, S.A.P., M.Si menghimbau, Jakarta Timur, khusus nya kelurahan Malaka jaya Saatnya Bergerak Serentak.
“Jakarta Timur memiliki modal besar: jumlah kader terbanyak, komunitas warga yang aktif, dan komitmen pimpinan wilayah yang kuat. Jika tiga strategi di atas diintegrasikan dengan sungguh-sungguh, maka percepatan penurunan stunting bukan lagi wacana”, ujarnya optimis.
Setiap kelurahan bisa menjadi lokus perubahan. Setiap RW bisa menjadi contoh keberhasilan.
Dr. Renny selaku kapustu Malaka jaya menambah kan : Anak-anak kita tidak bisa menunggu. 1000 Hari Pertama Kehidupan hanya terjadi sekali dan tidak bisa diulang. Mari kita pastikan, di Jakarta Timur, khususnya kelurahan Malaka jaya setiap anak mendapat kesempatan yang sama untuk tumbuh optimal.
Karena menurunkan stunting hari ini, berarti kita sedang membangun Jakarta Timur yang lebih sehat, lebih produktif, dan lebih berkeadilan untuk Indonesia Emas 2045.
Sementara itu Nonon selaku kader RW dengan cekatan mengajak seluruh warga RW 13 Malaka jaya untuk hadir dalam kegiatan ini.
Ajakan Nonon disambut antusias Warga dalam mengikuti kegiatan ini mereka berharap kegiatan ini terus berlanjut di wilayahnya agar mereka dapat hidup sehat.
Dalam pantauan media ini warga yang hadir dalam kegiatan ini sekitar 300 orang terdiri dari ibu hamil, balita, dewasa, pra lansia dan lansia.

















