MEDIA WARTA NASIONAL | BEKASI ‘ Sampah merupakan persoalan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Setiap individu menghasilkan sampah dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat pada malam hari.
Kondisi tersebut menjadikan sampah sebagai bagian dari lingkungan sekitar yang apabila tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan.
Sejumlah tragedi di tempat pembuangan akhir (TPA) maupun tempat pembuangan sementara (TPS), mulai dari longsor hingga ledakan yang menimbulkan korban jiwa, menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah secara serius. Peristiwa yang terjadi di TPA Burangkeng , Bantar Gebang, Bekasi, menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan perhatian serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Forum Bank Sampah Tambun Utara yang didukung penuh oleh Camat Tambun Utara, Najmudin , S.Ag., terus bergerak melakukan edukasi kepada masyarakat guna meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya peduli lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong masyarakat memilah sampah organik dan anorganik, kemudian mengoordinasikannya melalui pembentukan Bank Sampah Unit (BSU) di setiap RW.

Forum Bank Sampah Tambun Utara berdiri pada 2024 dan memperoleh Surat Keputusan (SK) pada 2025 dari Camat Tambun Utara, Najmudin, S.Ag. Hingga saat ini, Forum Bank Sampah telah membina sebanyak 70 Bank Sampah Unit. Setiap bulan, para pengelola BSU mendapatkan edukasi mengenai pemilahan, pengelolaan, hingga proses daur ulang sampah di lingkungan masing-masing.
Dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kemampuan pengelola BSU dalam memanajemen bank sampah, Ketua Forum Bank Sampah Tambun Utara, Antonuri, bekerja sama dengan Asosiasi Bank Sampah Indonesia (ASOBSI) dan Yayasan Gugah Nurani Indonesia menggelar kegiatan pelatihan di BSU JKL, Bumi Anggrek, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi Sabtu 07/11/2026.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 30 Bank Sampah Unit beserta jajaran pengurus Forum Bank Sampah Tambun Utara. Turut hadir Ketua RW 07 Bumi Anggrek, Edi Purnomo.
Dalam kesempatan tersebut, Edi Purnomo mengungkapkan bahwa pihaknya pernah memiliki gagasan untuk mendirikan bank sampah di lingkungannya. Namun, rencana tersebut sempat mendapatkan penolakan dari warga.
“Kami sempat mempunyai ide mendirikan Bank Sampah, namun didemo dan diprotes oleh warga,” ungkap Edi, mengingat kembali peristiwa sekitar tiga tahun lalu.
Sementara itu, Puji, Ketua RT 02 Karang Satria, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, berharap keberadaan bank sampah dapat membantu pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah. Selain itu, menurutnya, pengelolaan bank sampah juga membuka peluang ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat.
Pada sesi pemaparan materi, Puji Karyono selaku Sekretaris Jenderal ASOBSI Kabupaten Bekasi menjelaskan pentingnya penyusunan profil Bank Sampah Unit sebagai identitas organisasi.
Menurutnya, profil organisasi menjadi sarana bagi masyarakat maupun pihak lain untuk mengenal lebih jauh mengenai keberadaan, tujuan, serta sistem kerja sebuah bank sampah. Selain sebagai identitas, profil tersebut juga memiliki nilai strategis dalam membangun kerja sama dengan mitra maupun calon mitra.
Puji menekankan bahwa setiap BSU perlu memiliki profil organisasi yang baik agar keberadaannya semakin dikenal dan memiliki daya tawar dalam menjalin kemitraan.
Senada dengan hal tersebut, pemateri berikutnya, Fitri, memberikan pemahaman mengenai pentingnya tertib administrasi dalam pengelolaan Bank Sampah Unit.
“Setiap BSU harus punya buku tamu, data sampah yang diterima dari nasabah, memilah jenis-jenis sampah, dan mempunyai buku kas,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa administrasi yang tertata dengan baik merupakan salah satu fondasi penting dalam meningkatkan kualitas pengelolaan BSU. Dengan sistem administrasi yang rapi dan terstruktur, bank sampah diharapkan dapat berkembang, naik kelas, serta memiliki daya tawar dalam menjalin kerja sama dengan perusahaan maupun calon mitra lainnya.
Ketua Forum Bank Sampah Tambun Utara, Antonuri, dalam kesempatan tersebut mengajak seluruh pengelola BSU untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kapasitas dalam menjalankan organisasi maupun kegiatan operasional bank sampah.
“Kami akan terus menggelar pelatihan-pelatihan bagi BSU, tentu saja bekerja sama dengan ASOBSI sebagai lembaga yang legal dan nasional, sehingga wawasan para pengelola BSU meningkat dan naik kelas,” tandas Antonuri.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan kali ini diikuti oleh 30 BSU. Karena keterbatasan kesempatan, pelaksanaan pelatihan dibagi menjadi dua sesi agar seluruh pengelola bank sampah mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengikuti pembelajaran.
“Hari ini ada 30 BSU yang hadir dan ini dibatasi, dibuat dua sesi. Bagi yang belum mendapat kesempatan, maka akan dijadwalkan pada sesi berikutnya,” tutup Antonuri.
Melalui kegiatan edukasi dan pelatihan tersebut, Forum Bank Sampah Tambun Utara berharap kapasitas para pengelola BSU semakin meningkat, baik dalam aspek pengelolaan sampah, administrasi organisasi, maupun pengembangan kemitraan. Dengan demikian, keberadaan bank sampah tidak hanya menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat berkembang menjadi peluang pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Tinggalkan Balasan