Oleh : redaksi

MEDIA WARTA NASIONAL | JAKARTA ‘Kabar duka menyelimuti keluarga, sahabat, komunitas gereja, serta masyarakat yang mengenal perjalanan hidup dan karya Soraya Pinkan Aurelio Togas, atau yang akrab disapa Soraya Togas dan Kak Yaya.

Penyanyi yang dikenal melalui sejumlah lagu populer pada era 1980-an tersebut meninggal dunia pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 21.20 WIB, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta Pusat, dalam usia 61 tahun.

Lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 5 Januari 1965, Soraya merupakan salah satu figur yang dikenang melalui perjalanan karier musik, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, serta aktivitas sosial dan kemasyarakatan. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, terutama suaminya, Pendeta Bernard Aurelio, serta kerabat dan rekan-rekan yang selama ini berinteraksi dengannya.

Jenazah almarhumah disemayamkan di Rumah Duka dan Krematorium Sentosa, Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh Nomor 24, Senen, Jakarta Pusat. Setelah rangkaian ibadah penghiburan dan penghormatan terakhir, Soraya dimakamkan pada Selasa, 27 Oktober 2026, di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, berdampingan dengan makam kedua orang tuanya, Mama dan Papa Togas.

Pemakaman tersebut menjadi momen perpisahan yang penuh haru bagi keluarga dan orang-orang terdekat. Di tempat peristirahatan terakhir itu, keluarga melepas kepergian Soraya dengan doa dan pengharapan akan penghiburan Tuhan.

Berpulang dalam Pengharapan Iman

Soraya merupakan jemaat Gereja Masehi Injili Indonesia (GMII) New Life di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ia menjalani kehidupan bergereja bersama suaminya, Pendeta Bernard Aurelio, yang melayani sebagai pendeta di gereja tersebut.

Kabar kepergian Soraya disampaikan oleh adiknya, Lana Togas Koentjoro, melalui media sosial. Dalam ungkapannya, Lana menyertakan ayat Alkitab dari Filipi 1:21 yang berbunyi, “Bagiku, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

Ayat tersebut menjadi penguatan iman bagi keluarga dalam menghadapi kehilangan. Di tengah kesedihan, keluarga dan kerabat berupaya menerima kepergian Soraya melalui doa, dukungan, dan kebersamaan.

Selain aktif dalam kehidupan bergereja, Soraya juga tercatat menjabat sebagai Ketua Bidang Kebudayaan Pimpinan Pusat Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA). Ia dikenal sebagai kader Partai Gerindra dan pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Utara.

Dalam perjalanan hidupnya, Soraya tidak hanya dikenal melalui aktivitas seni, tetapi juga melalui keterlibatannya dalam kegiatan organisasi dan kemasyarakatan.

Momen Haru di Rumah Duka

Salah satu momen yang diceritakan dalam rangkaian penghormatan terakhir berlangsung pada Senin malam, 26 Oktober 2026. Pada kesempatan tersebut, Pendeta Bernard Aurelio membuka kain penutup peti jenazah untuk melihat wajah istrinya untuk terakhir kalinya.

Suasana emosional menyertai momen perpisahan itu. Menurut keterangan dalam bahan pemberitaan, Bernard sempat kehilangan kesadaran atau pingsan karena kesedihan yang mendalam. Keluarga dan kerabat yang hadir kemudian memberikan pertolongan serta memanjatkan doa. Sekitar 15 menit kemudian, ia dilaporkan kembali sadar dan mendapat dukungan dari keluarga yang mendampinginya.

Peristiwa tersebut menggambarkan beratnya kehilangan yang dirasakan pasangan yang telah menjalani kehidupan bersama. Namun, detail kejadian tersebut tetap perlu merujuk pada keterangan keluarga atau saksi yang hadir agar dapat disajikan secara terverifikasi.

Bagi keluarga, prosesi perpisahan bukan sekadar rangkaian pemakaman, melainkan kesempatan terakhir untuk menyampaikan kasih, penghormatan, dan doa kepada orang yang dicintai.

Sejumlah Tokoh Hadir Memberikan Penghormatan

Pada Selasa pagi, 27 Oktober 2026, rumah duka di Rumah Duka dan Krematorium Sentosa menjadi tempat berkumpulnya keluarga, sahabat, serta sejumlah tokoh organisasi dan keagamaan yang memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah.

Hasyim Djojohadikusumo, yang disebut sebagai Ketua Dewan Pembina Pimpinan Pusat GEKIRA, hadir untuk mengikuti ibadah penghiburan dan prosesi penutupan peti jenazah. Turut hadir Nikson Silalahi selaku Ketua Umum GEKIRA beserta jajaran pengurus organisasi tersebut.

Pimpinan, jemaat, dan pelayan firman dari GMII New Life, Kelapa Gading, juga hadir untuk mendampingi keluarga. Kehadiran mereka menjadi bentuk solidaritas dan dukungan moral bagi Pendeta Bernard Aurelio beserta keluarga besar yang ditinggalkan.

Sejumlah figur dari dunia hiburan, termasuk Lydia Kandou, Victor Hutabarat, dan Minggus Tahitoe, juga disebut hadir memberikan penghormatan terakhir.

Kehadiran berbagai kalangan tersebut memperlihatkan luasnya hubungan sosial yang terjalin di sekitar Soraya dan keluarganya. Meski demikian, rincian kehadiran setiap tokoh dan kapasitas resminya perlu dipastikan melalui dokumentasi atau keterangan penyelenggara sebelum diterbitkan sebagai informasi terverifikasi.

Jejak Karya Musik yang Tetap Dikenang

Nama Soraya Togas dikenal melalui perjalanan karier musiknya, terutama pada era 1980-an. Suaranya menjadi bagian dari kenangan para pendengar yang tumbuh bersama lagu-lagu populer pada masa tersebut.

Sejumlah lagu yang dikaitkan dengan perjalanan kariernya antara lain:

  • Hanya Pada-Mu
  • Oh Melati
  • Ayah
  • Rindu
  • Benci Tapi Rindu
  • Hidupku Selalu Berseri
  • Sayang Oh Sayang

Lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari daftar karya yang dikenang dalam pemberitaan mengenai kepergiannya. Untuk kepentingan dokumentasi musik yang akurat, informasi mengenai tahun rilis, pencipta lagu, label rekaman, serta keterlibatan Soraya sebagai penyanyi perlu disesuaikan dengan arsip rekaman atau sumber industri musik yang dapat diverifikasi.

Karya musik memiliki daya hidup yang melampaui masa ketika lagu tersebut pertama kali diperkenalkan. Melalui rekaman, siaran, dan kenangan pendengarnya, sebuah lagu dapat terus menghubungkan generasi yang berbeda.

Bagi para penggemar, mengenang Soraya melalui karya-karyanya merupakan salah satu cara untuk memberikan penghormatan atas perjalanan artistik yang telah ia jalani.

Kepedulian Sosial dan Pengabdian kepada Masyarakat

Di luar aktivitas bermusik, Soraya juga dikenang melalui keterlibatannya dalam kegiatan sosial. Dalam bahan pemberitaan yang disampaikan, ia bersama suaminya, Pendeta Bernard Aurelio, disebut turut menyalurkan bantuan sembako kepada masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19 pada 2020.

Bantuan tersebut dikisahkan menjangkau masyarakat di sekitar Kelapa Gading, Jakarta Utara, serta sejumlah kelompok yang membutuhkan, termasuk pengemudi ojek daring, pemulung, pekerja harian, pelayan gereja, dan jemaat. Kegiatan itu disebut dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai organisasi dan komunitas.

Pengalaman pandemi menjadi pengingat bahwa krisis kesehatan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik masyarakat, tetapi juga memengaruhi penghasilan, ketahanan keluarga, serta kemampuan memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam situasi semacam itu, kepedulian sosial dan gotong royong menjadi unsur penting untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Bantuan dalam bentuk pangan, dukungan sosial, dan pendampingan dapat meringankan beban kelompok rentan.

Soraya juga disebut aktif dalam kegiatan kebudayaan dan kemasyarakatan melalui GEKIRA. Selain menjabat sebagai Ketua Bidang Kebudayaan Pimpinan Pusat GEKIRA, ia tercatat sebagai anggota Dewan Pengawas Perempuan Indonesia Maju (PIM).

Dalam bidang politik, Soraya pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Utara. Langkah tersebut menunjukkan keterlibatannya dalam ruang partisipasi politik, meskipun penilaian mengenai capaian dan dampak kegiatannya perlu didasarkan pada rekam jejak yang terdokumentasi.

Kepergian Soraya dan Refleksi tentang Akses Kesehatan

Kepergian Soraya pada usia 61 tahun turut memunculkan refleksi mengenai pentingnya akses pelayanan kesehatan yang layak, perlindungan sosial, dan kemampuan ekonomi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Namun, tidak terdapat keterangan medis yang disajikan dalam bahan pemberitaan ini untuk memastikan penyebab meninggal dunia Soraya. Karena itu, kepergiannya tidak dapat langsung dikaitkan dengan keterbatasan biaya pengobatan, mutu pelayanan rumah sakit, atau kegagalan sistem kesehatan.

Meski demikian, peristiwa kehilangan seseorang yang dicintai dapat menjadi momentum untuk membicarakan persoalan publik yang lebih luas, termasuk keterjangkauan layanan kesehatan dan perlindungan bagi keluarga yang menghadapi kondisi darurat medis.

Biaya pengobatan yang tinggi dapat menjadi beban bagi rumah tangga, terutama ketika pendapatan terbatas atau perlindungan kesehatan tidak mencukupi. Oleh sebab itu, pemerintah, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memperkuat akses pelayanan yang aman, bermutu, dan terjangkau.

Kesejahteraan masyarakat juga tidak dapat dipisahkan dari kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan bergizi, tempat tinggal yang layak, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Kebijakan publik yang memperhatikan kebutuhan tersebut merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pesan mengenai kepedulian dan kemurahan hati yang diangkat dalam pemberitaan ini juga relevan untuk direnungkan. Membantu sesama bukan hanya tindakan kemanusiaan, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial yang dapat memperkuat solidaritas masyarakat.

Meski demikian, kepedulian sosial perlu berjalan beriringan dengan kebijakan publik yang adil dan berkelanjutan. Bantuan individu maupun komunitas penting, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab negara dalam memastikan terpenuhinya hak dasar warga.

Kenangan Keluarga, Sahabat, dan Para Pendengar

Kepergian Soraya meninggalkan ruang kehilangan bagi keluarga, sahabat, jemaat, rekan organisasi, serta orang-orang yang mengenal karya musiknya.

Ia dikenang melalui hubungan personal yang terjalin dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan GMII New Life, kawasan Kelapa Gading, maupun ketika berkunjung ke kampung halamannya di Manado.

Pemakaman Soraya di TPU Pondok Rangon, berdampingan dengan makam kedua orang tuanya, menjadi bagian penting dari kisah perpisahan tersebut. Bagi keluarga, tempat itu menjadi ruang untuk mengenang perjalanan hidup sekaligus mendoakan orang-orang terkasih yang telah mendahului.

Di media sosial, sejumlah pengguna disebut membagikan kembali lagu-lagu yang dikaitkan dengan Soraya, seperti “Hanya Pada-Mu”, “Oh Melati”, dan “Ayah”, disertai ungkapan duka serta doa bagi Pendeta Bernard Aurelio dan keluarga.

Unggahan semacam itu mencerminkan bagaimana karya seni dapat menjadi sarana mengenang seseorang. Namun, tingkat respons publik dan lagu yang paling banyak dibagikan perlu didukung data atau dokumentasi media sosial apabila hendak dinyatakan sebagai fakta terukur.

Pada akhirnya, kenangan terhadap seorang seniman tidak hanya berkaitan dengan popularitas, tetapi juga dengan makna yang diberikan karya-karyanya kepada pendengar.

Enam Pertanyaan untuk Refleksi Bersama

Kepergian Soraya juga dapat menjadi titik tolak untuk mengajukan sejumlah pertanyaan yang relevan bagi kehidupan masyarakat.

Pertama, bagaimana memastikan setiap warga memperoleh pelayanan kesehatan yang layak? Akses terhadap pemeriksaan, pengobatan, dan perawatan medis perlu tersedia secara adil tanpa diskriminasi berdasarkan kondisi ekonomi.

Kedua, mengapa sebagian masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar? Persoalan pendapatan, lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, dan perlindungan sosial memerlukan kebijakan yang tepat serta pelaksanaan yang konsisten.

Ketiga, apakah layanan kesehatan telah menjangkau seluruh kelompok masyarakat secara memadai? Evaluasi terhadap ketersediaan fasilitas, tenaga kesehatan, obat-obatan, dan pembiayaan perlu dilakukan berdasarkan data serta pengalaman masyarakat.

Keempat, bagaimana mencegah kematian yang sebenarnya dapat dihindari? Edukasi kesehatan, deteksi dini, akses terhadap layanan medis, dan penanganan yang tepat merupakan bagian penting dari upaya tersebut.

Kelima, bagaimana memperkuat dukungan bagi keluarga yang menghadapi penyakit berat atau kehilangan anggota keluarga? Pendampingan psikologis, dukungan sosial, serta perlindungan finansial dapat membantu keluarga menghadapi masa sulit.

Keenam, sejauh mana masyarakat mampu membangun budaya berbagi? Kepedulian tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya. Bantuan yang diberikan sesuai kemampuan dapat berarti besar bagi orang yang sedang mengalami kesulitan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan refleksi sosial, bukan kesimpulan mengenai penyebab kepergian Soraya. Jawabannya perlu dicari melalui dialog publik, kebijakan berbasis bukti, dan tindakan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan.

Harapan bagi Bangsa: Memperkuat Kepedulian dan Kesejahteraan

Kepergian Soraya Togas hendaknya tidak berhenti sebagai berita duka. Kisah hidup dan pengabdiannya dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama serta mendorong perhatian lebih besar terhadap persoalan kesejahteraan masyarakat.

Kepada masyarakat, semangat berbagi perlu terus dipelihara. Membantu orang yang membutuhkan dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari dukungan pangan, bantuan pendidikan, pendampingan keluarga, hingga partisipasi dalam kegiatan kemanusiaan.

Kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan, upaya memperluas akses kesehatan, meningkatkan kesejahteraan, serta melindungi kelompok rentan perlu terus diperkuat. Pelayanan publik yang berkualitas dan terjangkau merupakan bagian penting dari tanggung jawab untuk menjaga kehidupan dan martabat warga negara.

Kepada komunitas keagamaan dan organisasi kemasyarakatan, kerja sama lintas kelompok dapat menjadi sarana untuk memperluas bantuan dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Nilai kasih, solidaritas, dan gotong royong akan semakin bermakna apabila diwujudkan melalui tindakan nyata.

Bagi Pendeta Bernard Aurelio dan seluruh keluarga, semoga penghiburan, doa, dan dukungan dari orang-orang terdekat memberikan kekuatan dalam menghadapi masa berkabung. Semoga pelayanan di GMII New Life tetap berjalan dengan baik dan kenangan bersama Soraya menjadi sumber penguatan.

Dalam Injil Yohanes 10:10 terdapat firman, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Ayat tersebut dapat direnungkan sebagai pengingat akan pentingnya kehidupan yang bermakna, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.

Penutup: Selamat Jalan, Kak Soraya

Selamat jalan, Kak Soraya.

Terima kasih atas karya dan kenangan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup para pendengar. Terima kasih atas setiap kebaikan yang, melalui kesaksian keluarga dan orang-orang yang mengenalnya, akan terus dikenang.

Kini Soraya Togas telah dimakamkan di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, berdampingan dengan Mama dan Papa Togas. Bagi keluarga yang ditinggalkan, kepergiannya merupakan kehilangan yang mendalam. Bagi orang-orang yang mengenal karya dan pengabdiannya, kenangan tentang dirinya akan tetap memiliki tempat tersendiri.

Semoga keluarga yang berduka memperoleh kekuatan dan penghiburan dari Tuhan. Semoga setiap karya yang telah ditinggalkan menjadi bagian dari kenangan yang baik, sementara semangat kepedulian terhadap sesama terus hidup dalam tindakan nyata.

Kepergian seseorang tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui kata-kata. Namun, perpisahan dapat mengingatkan kita untuk lebih menghargai kehidupan, memperhatikan kebutuhan orang lain, serta menggunakan kesempatan yang ada untuk berbuat baik.

Kiranya bangsa ini terus bertumbuh menjadi masyarakat yang lebih sejahtera, adil, dan penuh kasih, dengan akses kesehatan yang semakin baik serta kepedulian sosial yang semakin kuat.

Selamat beristirahat dalam damai, Soraya Togas.

Turut berdukacita. Kiranya kasih dan penghiburan Tuhan menyertai Pendeta Bernard Aurelio serta seluruh keluarga yang ditinggalkan.