Oleh : Redaksi

 

 

MEDIA WARTA NASIONAL | JAKARTA ‘ Angka backlog perumahan yang masih besar di Indonesia berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan, ketika sejumlah proyek perumahan justru mengalami kemangkrakan dan tidak terserap pasar. Fenomena ini menjadi perhatian dalam pertemuan antara Himpunan Pengembang Nusantara (HIPNU) dan Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA) di Jakarta, yang membahas peluang kolaborasi antara sektor pengembang properti dan pelaku UMKM.

Ketua Umum HIPNUSA, Muhammad Aditya Prabowo, membuka diskusi dengan mempertanyakan persoalan mendasar yang dihadapi industri perumahan saat ini.

“Ini dua hal yang terlihat aneh. Angka backlog perumahan masih besar, tetapi mengapa banyak perumahan justru mangkrak? Di mana letak persoalannya?” ungkap Aditya.

Pertanyaan tersebut mendapat respons dari Ketua Umum HIPNU, Arwani Pitoko. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan tantangan yang perlu dibedah secara menyeluruh, mengingat pasar properti saat ini sedang mengalami penurunan.

Persoalan ini menunjukkan bahwa kebutuhan rumah yang besar tidak serta-merta menjamin seluruh produk perumahan dapat terserap pasar. Diperlukan evaluasi dari berbagai sisi, mulai dari daya beli masyarakat, akses pembiayaan, kesesuaian produk dengan kebutuhan konsumen, hingga strategi pemasaran dan ekosistem ekonomi di sekitar kawasan perumahan.

HIPNUSA Dorong Kolaborasi Developer dan UMKM

Dalam diskusi tersebut, Muhammad Aditya Prabowo menegaskan pentingnya membangun kolaborasi antara pengembang properti dan pelaku UMKM sebagai salah satu upaya mencari solusi atas persoalan pasar.

Menurutnya, HIPNUSA sejak awal digagas pada 2024 untuk menjadi wadah kolaborasi dan menghadirkan solusi pasar bagi para pengusaha, termasuk pelaku UMKM yang membutuhkan akses usaha, kemitraan, dan peluang pertumbuhan.

“Insyaallah, HIPNUSA memiliki gagasan dan solusi yang bisa kita kembangkan bersama. Kita tidak bisa hanya melihat persoalan dari sisi pembangunan rumah, tetapi juga harus memikirkan bagaimana menciptakan aktivitas ekonomi, membuka peluang usaha, dan menggerakkan daya beli masyarakat,” tegas Aditya.

Ia mengajak para pengembang untuk tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang mampu menghidupkan kawasan perumahan. Di sinilah UMKM dapat mengambil peran melalui berbagai kegiatan usaha, penyediaan kebutuhan penghuni, serta penciptaan lapangan kerja.

Gotong Royong Menjadi Jalan Kolaborasi

Aditya kemudian mengajak HIPNU untuk membangun kerja sama dengan semangat gotong royong. Gagasan tersebut disambut baik oleh Arwani Pitoko selaku Ketua Umum HIPNU.

Kolaborasi antara kedua asosiasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mempertemukan potensi pengembang properti dengan kekuatan UMKM, sehingga tercipta peluang usaha yang saling menguntungkan dan memberikan dampak ekonomi lebih luas.

Pertemuan ini juga membuka ruang bagi pembahasan lanjutan mengenai bentuk kemitraan, model bisnis, serta program konkret yang dapat dijalankan bersama.

Bagi HIPNUSA, persoalan backlog dan perumahan mangkrak tidak cukup dijawab dengan menambah pembangunan semata. Diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, dengan mempertemukan kebutuhan masyarakat, kemampuan pasar, kreativitas pengusaha, dan kekuatan kolaborasi antarsektor.

Sebab, rumah bukan hanya bangunan untuk dihuni. Rumah juga dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, tempat UMKM berkembang, dan sumber penghidupan bagi masyarakat.

Melalui sinergi HIPNU dan HIPNUSA, semangat gotong royong diharapkan menjadi pintu masuk untuk mencari solusi nyata bagi tantangan industri properti sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan Indonesia.